= :D :D is.....
Labels
cuplikan
(5)
journey
(3)
lesson
(4)
nasionalisme
(1)
obrolan
(2)
sastra
(7)
song
(4)
suara jiwa
(15)
words of the day
(20)
Tuesday, December 28, 2010
Saturday, December 25, 2010
"Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurd lah hidup kita."
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. 16 Desember 1961.
Friday, December 24, 2010
Sajak Pertemuan Mahasiswa – W.S Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan
kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”
ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”
kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat – alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat – alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
tentu, kita bertanya :
“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu – ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu – ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak – cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang
malam akan tiba
cicak – cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang
dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra
di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
Wednesday, December 22, 2010
langkah...
Ia pijakkan kaki nya perlahan, melihat keadaan. Kadang enggan. Ia takut tersandung, terkilir, terjerembap. Ia takut melangkah dengan kaki nya ---yang penuh bekas luka itu--- . Kadang ia tak ingin bergerak, diam saja, takut langkahnya membawanya ke suatu tempat yang tak ia harap. Kadang ia berpikir. Mengingat-ingat kembali cara untuk nya melangkah. Berpikir...berpikir...sampai ia berkeringat mengingat-ingat. Dengan langkah kecil-kecil, penuh kehati-hatian, dengan melihat rambu-rambu dan marka jalan, memperhatikan sekitar, hingga memakai alarm ---alarm yang mengendalikan derap langkahnya, alarm yang mencegahnya melangkah terlalu lebar, alarm yang sudah ia tanam di kepalanya--- ia lanjutkan melangkah. Dengan pasrah, menggadaikan kaki nya yang sudah penuh nanah. Satu saja arah yang ia tuju, satu.
Tuesday, December 21, 2010
Lantas...???
Hari dengan kombinasi tiga angka saja, ya berurutan ---- 0 1 2. Hari itu dan kejadian di dalamnya tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hari dimana ia harus merogoh kocek cukup dalam---untuk kalangan mahasiswa---hari dimana ia pulang menuju rumahnya dengan harga selangit, jika langitnya tak runtuh. Biaya termahal yang pernah ia bayarkan hanya untuk perjalanan pulang. Bahkan lebih mahal dari harga tiket kereta lintas kota.
Ia nekat melakukan perjalanan pulang dengan sahabatnya, ya sahabat yang akan melakukan penerbangan ---tentu saja sebelum ia berangkat terbang---. Perjalanan pulang itu seperti biasanya, sebelum hal yang tak biasa terjadi. "Saya pulang dengan kamu", ucapnya. "Oooo oke...", jawab sahabatnya. Ya dengan sadarnya, ia nekat pulang. Yang tak biasa, ia pulang tanpa sesuatu di atas kepalanya, tanpa benda bulat yang melingkar di kepalanya. Dengan sadar, ia bersikap dingin, begitu pula sahabatnya. Bahkan mereka hanya tertawa saja.
"Hari ini memang gila...", kata sahabatnya, lalu ia menanggapi dengan tawa, "....ya kamu benar-benar gila", sambil berpikir bahwa perjalanan pulang itu pun adalah hal yang sangat gila. " Untuk itu, saya habiskan saja gilanya sekalian.", lelaki itu tertawa kencang, tak ubahnya dia, mereka hanya menertawakan kegilaan itu. Tawa-tawa itu menggelegar cukup lama, sepanjang perjalanan.
Seorang kawan mengirim pesan, "Kamu tidak jadi pinjam?", "balas saja, bilang tak usah, kita sudah di perjalanan.", ujar sahabatnya. Dengan percaya diri, ia dan sahabatnya meneruskan perjalanan. Perjalanan mereka tak pernah sepi, apapun bisa menjadi topik, jika sudah habis topik mereka masih punya tawa---sebuah topik yang tak pernah habis.
Mereka nampak santai, lupa, atau bahkan tak peduli apakah perjalanan mereka aman-aman saja. Sampai mereka melewati jalan yang nampak berbahaya. Dalam jarak lima meter di depan, sebuah pos jaga dengan dua orang berseragam coklat dengan rompi hijau sudah seperti monster yang siap melahap dua orang itu. Ya, ia dan sahabatnya baru sadar setelah seorang berompi hijau itu mendekat dan menyuruh mereka mendekatkan kendaraannya ke pos. Tanpa penolakan, tanpa ekspresi kaget, tanpa perlawanan, dan masih banyak lagi tanpa, sahabatnya mengikuti instruksi bapak berompi hijau.
Sesaat kemudian ia dan sahabatnya turun. Dikeluarkanlah sebuah kertas---sebut saja warnanya merah--- lalu dicatatlah nama sahabatnya seraya kartu jaminan perjalanan itu melayang ke tangan petugas berompi hijau, lagi-lagi tanpa penolakan, tanpa ekspresi kaget, tanpa perlawanan. Kertas merah itu diberikan pada sahabatnya sebagai sarana penukar kartu jaminan. Kartu jaminan yang harus diambil di meja hijau tujuh hari kemudian. Ia bertanya-tanya dalam kepalanya, harus bagaimana, harus berbuat apa. Tapi dengan dinginnya sahabatnya berlalu saja, ia bertanya "Lantas??", sahabatnya hanya mengulangi pertanyaan itu, "Lantas??". Akhirnya keduanya diam saja, tak bisa mengelak, ini murni sebuah pelanggaran---pelanggaran yang amat sangat konyol.
Sesaat kemudian ia dan sahabatnya turun. Dikeluarkanlah sebuah kertas---sebut saja warnanya merah--- lalu dicatatlah nama sahabatnya seraya kartu jaminan perjalanan itu melayang ke tangan petugas berompi hijau, lagi-lagi tanpa penolakan, tanpa ekspresi kaget, tanpa perlawanan. Kertas merah itu diberikan pada sahabatnya sebagai sarana penukar kartu jaminan. Kartu jaminan yang harus diambil di meja hijau tujuh hari kemudian. Ia bertanya-tanya dalam kepalanya, harus bagaimana, harus berbuat apa. Tapi dengan dinginnya sahabatnya berlalu saja, ia bertanya "Lantas??", sahabatnya hanya mengulangi pertanyaan itu, "Lantas??". Akhirnya keduanya diam saja, tak bisa mengelak, ini murni sebuah pelanggaran---pelanggaran yang amat sangat konyol.
Dalam hal ini mereka sangat salut pada petugas yang masih menjalankan tugasnya dengan baik, bukan menjadikan pelanggaran sebagai formalitas belaka, petugas yang masih jujur, tidak begitu saja memungut paksa pajak pengadilan yang sudah sangat langka ditemukan di negeri ini.
Ia merasa bersalah pada sahabatnya, ini gara-gara tindak nekatnya, juga persetujuan sahabatnya. Ya dalam hal ini keduanya memang bersalah. Saat itu juga biaya penebusan kartu jaminan mereka bagi dua---keduanya dengan uang hadiah dari negara---dibayarkan untuk negara pula. Mereka melanjutkan perjalanan, dengan perasaan bersalah diselingi kekonyolan, dan mereka anggap kejadian itu adalah humor---humor pembelajaran---.
Perjalanan pulang yang tak biasa, mereka menertawakan diri sendiri, menertawakan kekonyolan, tidak sedikitpun merasa tak enak hati. Ya, perjalanan pulang yang tak pernah ia lupakan, sangat penuh pembelajaran---dan tentu saja hiburan--- perjalanan yang tiga perempatnya tawa lepas. Dan perjalanan termahal untuk jarak delapan kilometer saja perjalanan pulang. Perjalanan yang menyisakan tanya, "Lantas??", yang akhirnya ia jawab sendiri, "Lantas?? Lantas kita tertangkap polantas", jawaban yang diiringi gelegak tawa tiada henti sampai ia tiba pulang. Perjalanan yang melahirkan sebuah pengalaman. Perjalanan yang mereka rahasiakan.
Monday, December 20, 2010
penerbangan
-----"Aku berangkat..." ujar sahabatnya, lelaki itu selalu berujar dengan dinginnya, ia mau terbang katanya, terbang ke alam mimpi. Akhir-akhir ini lelaki itu sering berkata demikian padanya, dengan wajah yang berubah ceria. Mulai beberapa minggu yang lalu, wajah sahabatnya memang agak berubah, berseri-seri, terlebih lagi ia akan melakukan penerbangan. Penerbangan yang sama dengan beberapa bulan lalu. Penerbangan kali ini mungkin lebih hati-hati, ia sudah tahu berapa besar resikonya.
Lagi-lagi ia berpesan, dengan nada datar, tiada yang perlu ditekankan. "Kamu memang sedang terbang kan? cepatlah mendarat, sebelum kau terjatuh untuk kesekian kalinya.", ia menghela napasnya "mendaratlah pelan2...". Lelaki itu menanggapi sahabatnya seperti biasa, dengan senyuman kecil, "....baiklah saya akan mendarat di tempat yang tepat...".
Kali ini ia menanggapi lelaki itu dengan cukup panjang lebar, dengan sedikit garis kekhawatiran dan terbesit ingatan akan sesuatu, yang ia tak ketahui. "----- Ya mendaratlah di daratan yang dapat kau pijak. Apakah kau sudah siap dengan parasut dan kantung-kantung perbekalan mu jika seandainya kau harus mendarat darurat?". Lagi-lagi lelaki itu menjawab dengan yakinnya, " itu sudah dipersiapkan dengan sangat matang...".
Keyakinannya terlihat dari senyumannya, nampaknya lelaki itu tahu jelas resikonya. Tetapi ia tak bosan berpesan pada lelaki itu, ya mungkin saja hal ini sangat lumrah mengingat lelaki itu sahabatnya. Ia selalu bilang, "hati-hati di penerbangan ya, berdoalah sebelum terbang....agar tiba di tempat tujuan dengan selamat...".
Kali ini ia berharap tempat tujuan lelaki itu benar-benar tempat yang dapat dipijak.
Tak peduli apa dan siapa yang membuatmu terjatuh, berapa lama yang kau butuhkan tuk berdiri lagi, kau tak akan bisa melewatinya tanpa seorang sahabat.
Tak peduli apa dan siapa yang membuatmu terjatuh, berapa lama yang kau butuhkan tuk berdiri lagi, kau tak akan bisa melewatinya tanpa seorang sahabat.
Thursday, December 16, 2010
Hujan di Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Subscribe to:
Posts (Atom)


