Labels

Thursday, November 24, 2011

kita JAUH diatas mereka (rebloged from mbeer via kuntawiaji via nareswarii)

1. Merasa dideketin pas mereka ada butuhnya aja? itu berarti mereka punya masalah yg sangat besar dan mereka mengakui bahwa mereka tidak bisa, dan hanya kamulah yg bisa ngebantu.
2. Mereka Pergi saat sudah kita bantu? berarti kita udah sukses ngebagi ilmu kita ke orang lain dimana orang lain sudah merasa bisa dan sanggup untuk berdiri sendiri tanpa bantuan kita lagi.
Apakah itu semua kurang cukup untuk mengartikan bahwa kita JAUH dan sangat JAUH di atas mereka?
kesimpulan : berarti kita keren! 

being forgoten? aaahh sudahlahyah hahahhaha yang penting kita yang mengalami dua poin diatas tetep keren dan memenangkan #hargadiricup *naooon* *stress*

Monday, August 8, 2011

Tong Sampah, part kesekian kali

Udah lama saya gak nulis di blog yang ini...keseringan maen tumblr. Akhir-akhir ini topik bahasan saya gak jauh dari hal-hal sederhana yang emang tiap hari selalu ada, yap...apa itu pertemanan dan persahabatan sebenarnya yang akhirnya bukan cuma jadi cerita tong sampah belaka. Gak tau kenapa, sejak saat itu saya seneng banget sama kata-kata "tong sampah". Pertamanya sih dimulai dari being forgotten feeling, ya gatau saya ababil tapi emang beneran gak ababil sih, emang menohok banget kalo dicerna secara dewasa juga. Akhirnya postingan-postingan tumblr saya dipenuhi sama kata-kata "friends" dan "recycle bin"....uh yeah my favourite words since i dissapointed with my bestfriends *ups ex-bestfriend.

Orang itu cepat berubah ya...dari hitam jadi putih, dari terang jadi gelap, dari prinsipil jadi nelen ludah sendiri, dari baik jadi buruk. Ya berubah bisa gara-gara lingkungan, gara-gara pola pikir, sama gara-gara ya gausah saya jelasin lah ya. Sempet bete tapi gimana lagi, bukan hak saya kan bete-bete. Sakit hati...ya enggak juga lah, enak aja saya sakit hati sama orang kayak gitu *loh? hahahhaha. Gatau deh gitulah rasanya. Tertohok banget dah pokoknya ditambah lagi kecewa yang menggunung *lebe, tapi emang gtu iya ga? (nanya sama temen saya yang sama2 dissapointed banget hahah).

Baru-baru ini saya baca "Madre" nya mbak Dee. Bagian menunggu layang-layang kayaknya rada menohok saya yah hahahahha, bisa banget deh mbak dee kata-kata favorit saya ditulis di situ "tong sampah". Tapi si Che di menunggu layang-layang ga terlalu mengenaskan kayak saya *hiperbol banget gue. Yaa kalo kata temen saya yang sama-sama dissapointed kayak saya mah,

"like a fool....he call me when he need help or he said something which make feel do sad....but when he don't need me...he throw me like a trash "
hwhahahaha saya mah ngakak aja lah...emang itu banget.

Hey! you will be feeling alone next time! yeah cause you forgetin all of your friends, all your memories with us. If u feelin alone dont call me back, i dont wanna feel dissappointed again and that time u will realize that what friends are for. Hope u will be happy now, but next time, you will regret. I hope u understand whats friends are for (*apadeeehhh emangnya bakal sadar?? wkwkwk). They cant be your trash everytime, they have a feeling. Someday you will miss me, miss all your friends so bad. I know that will be.

*Yah, lagi-lagi nyampah di blog deh gue -..- , sekarang mah ngomongnya blak-blakan ajalah

Monday, June 20, 2011

kebiasaan itu menghilang sudah lama
ya...tak apa...
ketika satu persatu kau lenyapkan
ya..tak apa, tak apa
ketika kau telah menjadi bukan kau,
bukan tak apa
aku pikir aku sudah tak mengenalmu lagi
begitupun denganmu bukan?
kau sudah tak mengenal siapa dirimu sebelum ini
maka aku hanya bisa bantu, itupun sedikit
sedikit doa agar kau berpikir bahwa kau telah menjauhi kau yang lain
kau yang jauh lebih baik sebelum ini
dengan prinsip-prinsip mu
semoga kau menyadarinya
lalu janganlah lagi kau telan ludahmu yang pedas-pedas itu
pertimbangkanlah sekali lagi
aku berkata demikian dengan kesungguhan
bukankah kita harus saling mengingatkan?

dari seseorang yang mengenalmu sebelum ini
yang kau anggap tiada

Sunday, May 1, 2011

cbs - rectoverso, my favourite story

Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.
“Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini.” Katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.
Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan mala mini memang betulan penting.
Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh tintamu ke-1, empat tahun yang lalu. “Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?” tanyaku, berusaha santai.
“Malam ini aku lahir baru.”
“Kamu… bertobat?”
“Bisa jadi itu istilahnya!” tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, “Aku… selesai.”
Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.
“Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!” Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.
Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.
“Kenapa?” tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata Tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.
Tolong jangan tersinggung jika kubliang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, dimana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian disitu. Dan kamu tak pernah tahu itu.
Ceritamu kerap berbanti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa saja, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.
“Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin.” Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. “Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku Cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong…”
Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.
“Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku… dan segelas air putih.”
Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.
“Tapi… aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…” katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.
Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.
“Orang… yang begitu tahu aku sakit… mau jam berapapun… langsung datang…” Susah payah kamu bicara.
Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku bordering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Lalu ia minta dibawakan segelah air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.
Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu. “Keinginan itu… tidak ketinggian , kan?”
Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putrid minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.
”Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?” demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.
”Aku akan diam,” jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.
”Diam?”
”Ya. Diam! Diam ditempat. Tidak ada lagi usha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yankin diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”
Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.
Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, ”Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!”
Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.
”Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.
”Ya.”
”Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?”
”Ya.”
Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

being forgotten

When your closets friend get what he/her wants, sometimes we’ve been forgotten. Yeaahhh…so poor you haha. My friend said to me that actually we own already have a solution for ourselves problem and sometimes we share it to another. Sometimes the good listener just be a garbage recycle bin. Hahahhaha concrete example is me . We know what should we do, but we dont have enough confidence. Amazingly, our recycle bin definetely give the same advice same as what we think. Last sentence "salam hangat terdahsyat untuk my bestfriend...ehm ex-bestfriend for all your attention, I DONT WANNA BE RECYCLE BIN ANYMORE! (*oops jahat banget ya gue)".

- ditulis dengan segenap kekecewaan, being forgotten blogger , taken from extra crazy midnight conversation with nisa awaliyah….big thanks for u awal *smooch :P

Thursday, March 24, 2011

Bandung Lautan Api (24 Maret 1946 -24 Maret 2011)

Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali!
-Ismail Marzuki- 


 Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api
Oleh:W.S. Rendra

Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba

Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan zaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.