Labels

Wednesday, December 22, 2010

langkah...

Ia pijakkan kaki nya perlahan, melihat keadaan. Kadang enggan. Ia takut tersandung, terkilir, terjerembap. Ia takut melangkah dengan kaki nya ---yang penuh bekas luka itu--- . Kadang ia tak ingin bergerak, diam saja, takut langkahnya membawanya ke suatu tempat yang tak ia harap. Kadang ia berpikir. Mengingat-ingat kembali cara untuk nya melangkah. Berpikir...berpikir...sampai ia berkeringat mengingat-ingat. Dengan langkah kecil-kecil, penuh kehati-hatian, dengan melihat rambu-rambu dan marka jalan, memperhatikan sekitar, hingga memakai alarm ---alarm yang mengendalikan derap langkahnya, alarm yang mencegahnya melangkah terlalu lebar, alarm yang sudah ia tanam di kepalanya--- ia lanjutkan melangkah. Dengan pasrah, menggadaikan kaki nya yang sudah penuh nanah. Satu saja arah yang ia tuju, satu.

3 comments:

  1. bila yakin bahwa dengan diam tidak akan mnybabkn dia trsesat ke tmpat yg tidak dia khndaki...maka diam lah trus...
    tapi bukankah sudah ada alarm pngingat bila ia trllu jauh mlangkah dan tersesat?? lantas mngapa ragu? mngapa harus seolah terbebani dgn langkah yg harus ditmpuh, shabat? jgn biarkan langkah kaki itu ditiupkan dgn ruh kompleks shngga kakipun sulit atau enggan tuk digerakan seolah menanggung kiloan batu yg terpaut mati dikaki itu...biarkan ia brdiri dgn sbnr2nya berdiri, biarkan dia berjalan dgn sbnr2nya ia berjalan dan biarkan ia brlari dngan sbnr2nya ia berlari..

    ReplyDelete
  2. ia tidak terbebani...ia bebas dalam dirinya sendiri...alarm pengingat adalah Tuhan dan keyakinannya, thats all
    buktinya ia mampu berdiri tanpa harus mengeluh atau mengeluarkan sedikitpun air mata....itu karena ia masih punya Tuhan, yang akan selalu mendengarkannya.

    Makanya ayo jadi pribadi yang bangkit dan lebih kuat!!

    ReplyDelete
  3. kalo pun ada ragu yang terbesit bukan berarti terbebani, malah itu merupakan proses pencarian hal yang lebih kuat lagi baik

    ReplyDelete