Hari dengan kombinasi tiga angka saja, ya berurutan ---- 0 1 2. Hari itu dan kejadian di dalamnya tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hari dimana ia harus merogoh kocek cukup dalam---untuk kalangan mahasiswa---hari dimana ia pulang menuju rumahnya dengan harga selangit, jika langitnya tak runtuh. Biaya termahal yang pernah ia bayarkan hanya untuk perjalanan pulang. Bahkan lebih mahal dari harga tiket kereta lintas kota.
Ia nekat melakukan perjalanan pulang dengan sahabatnya, ya sahabat yang akan melakukan penerbangan ---tentu saja sebelum ia berangkat terbang---. Perjalanan pulang itu seperti biasanya, sebelum hal yang tak biasa terjadi. "Saya pulang dengan kamu", ucapnya. "Oooo oke...", jawab sahabatnya. Ya dengan sadarnya, ia nekat pulang. Yang tak biasa, ia pulang tanpa sesuatu di atas kepalanya, tanpa benda bulat yang melingkar di kepalanya. Dengan sadar, ia bersikap dingin, begitu pula sahabatnya. Bahkan mereka hanya tertawa saja.
"Hari ini memang gila...", kata sahabatnya, lalu ia menanggapi dengan tawa, "....ya kamu benar-benar gila", sambil berpikir bahwa perjalanan pulang itu pun adalah hal yang sangat gila. " Untuk itu, saya habiskan saja gilanya sekalian.", lelaki itu tertawa kencang, tak ubahnya dia, mereka hanya menertawakan kegilaan itu. Tawa-tawa itu menggelegar cukup lama, sepanjang perjalanan.
Seorang kawan mengirim pesan, "Kamu tidak jadi pinjam?", "balas saja, bilang tak usah, kita sudah di perjalanan.", ujar sahabatnya. Dengan percaya diri, ia dan sahabatnya meneruskan perjalanan. Perjalanan mereka tak pernah sepi, apapun bisa menjadi topik, jika sudah habis topik mereka masih punya tawa---sebuah topik yang tak pernah habis.
Mereka nampak santai, lupa, atau bahkan tak peduli apakah perjalanan mereka aman-aman saja. Sampai mereka melewati jalan yang nampak berbahaya. Dalam jarak lima meter di depan, sebuah pos jaga dengan dua orang berseragam coklat dengan rompi hijau sudah seperti monster yang siap melahap dua orang itu. Ya, ia dan sahabatnya baru sadar setelah seorang berompi hijau itu mendekat dan menyuruh mereka mendekatkan kendaraannya ke pos. Tanpa penolakan, tanpa ekspresi kaget, tanpa perlawanan, dan masih banyak lagi tanpa, sahabatnya mengikuti instruksi bapak berompi hijau.
Sesaat kemudian ia dan sahabatnya turun. Dikeluarkanlah sebuah kertas---sebut saja warnanya merah--- lalu dicatatlah nama sahabatnya seraya kartu jaminan perjalanan itu melayang ke tangan petugas berompi hijau, lagi-lagi tanpa penolakan, tanpa ekspresi kaget, tanpa perlawanan. Kertas merah itu diberikan pada sahabatnya sebagai sarana penukar kartu jaminan. Kartu jaminan yang harus diambil di meja hijau tujuh hari kemudian. Ia bertanya-tanya dalam kepalanya, harus bagaimana, harus berbuat apa. Tapi dengan dinginnya sahabatnya berlalu saja, ia bertanya "Lantas??", sahabatnya hanya mengulangi pertanyaan itu, "Lantas??". Akhirnya keduanya diam saja, tak bisa mengelak, ini murni sebuah pelanggaran---pelanggaran yang amat sangat konyol.
Sesaat kemudian ia dan sahabatnya turun. Dikeluarkanlah sebuah kertas---sebut saja warnanya merah--- lalu dicatatlah nama sahabatnya seraya kartu jaminan perjalanan itu melayang ke tangan petugas berompi hijau, lagi-lagi tanpa penolakan, tanpa ekspresi kaget, tanpa perlawanan. Kertas merah itu diberikan pada sahabatnya sebagai sarana penukar kartu jaminan. Kartu jaminan yang harus diambil di meja hijau tujuh hari kemudian. Ia bertanya-tanya dalam kepalanya, harus bagaimana, harus berbuat apa. Tapi dengan dinginnya sahabatnya berlalu saja, ia bertanya "Lantas??", sahabatnya hanya mengulangi pertanyaan itu, "Lantas??". Akhirnya keduanya diam saja, tak bisa mengelak, ini murni sebuah pelanggaran---pelanggaran yang amat sangat konyol.
Dalam hal ini mereka sangat salut pada petugas yang masih menjalankan tugasnya dengan baik, bukan menjadikan pelanggaran sebagai formalitas belaka, petugas yang masih jujur, tidak begitu saja memungut paksa pajak pengadilan yang sudah sangat langka ditemukan di negeri ini.
Ia merasa bersalah pada sahabatnya, ini gara-gara tindak nekatnya, juga persetujuan sahabatnya. Ya dalam hal ini keduanya memang bersalah. Saat itu juga biaya penebusan kartu jaminan mereka bagi dua---keduanya dengan uang hadiah dari negara---dibayarkan untuk negara pula. Mereka melanjutkan perjalanan, dengan perasaan bersalah diselingi kekonyolan, dan mereka anggap kejadian itu adalah humor---humor pembelajaran---.
Perjalanan pulang yang tak biasa, mereka menertawakan diri sendiri, menertawakan kekonyolan, tidak sedikitpun merasa tak enak hati. Ya, perjalanan pulang yang tak pernah ia lupakan, sangat penuh pembelajaran---dan tentu saja hiburan--- perjalanan yang tiga perempatnya tawa lepas. Dan perjalanan termahal untuk jarak delapan kilometer saja perjalanan pulang. Perjalanan yang menyisakan tanya, "Lantas??", yang akhirnya ia jawab sendiri, "Lantas?? Lantas kita tertangkap polantas", jawaban yang diiringi gelegak tawa tiada henti sampai ia tiba pulang. Perjalanan yang melahirkan sebuah pengalaman. Perjalanan yang mereka rahasiakan.

penyesalan yang berbalutkan kekaguman kepada aparat yg masih nertugas dengan prinsipnya...
ReplyDeleteakhirnya tak ada sedih, yang ada hanyalah kekaguman dan pembelajaran meski semuanya harus dibayar mahal. hehehehe
hahaha yoips pi...
ReplyDeletepembelajaran dan komedi tentunya
peljaran hari itu...tertib lalu lintas lah dmna anda berada..hahaha..sdh diduga shbt2..hhaha
ReplyDelete